Jumat, 13 Mei 2011

Sawo


ABIU

Sawo Australia – Abiu

 Walaupun Abiu dikenali berasal dari daerah sekitar Amazon, dataran rendah Peru dan Brazil (Amerika Selatan), banyak penggemar tabulampot di Indonesia  lebih mengenali buah ini dengan sebutan Sawo Australia, mungkin karena tanaman ini banyak dibudidayakan di Australia tepatnya di North Queensland.
Buah Abiu berbentuk oval hingga bulat berukuran panjang 6-12 cm memiliki bobot cukup besar seukuran mangga 300-700 g dengan ujung buah bulat licin hingga bercuping yang mulai dihasilkan oleh tanaman yang berusia 2 tahun sejak tanam di lapang/pot. Panen buah Abiu dapat dilakukan setelah 3 bulan dari bunga muncul.
Tanaman Abiu memiliki banyak kesamaan dengan sawo durian (Chrysophyllum cainito), seperti halnya kerabat sawo-sawoan, pohon Abiu  mampu mencapai tinggi 15 meter dengan kayu pohon yang padat, keras, dan berat.
Perbedaannya pohonnya dengan sawo durian adalah pohon Abiu membentuk tajuk seperti piramid sedangkan sawo duren membentuk tajuk membulat. Warna buah Abiu juga kuning menarik, sedangkan sawo duren hijau bergetah jadi kelihatan suram. Bentuk tajuk pohon Abiu yang mirip tajuk pohohn cemara ini menjadikan pohon Abiu sangat Indah untuk dijadikan tabulampot, terlebih lagi warna kulit yang sangat cerah dan menarik dari buah Abiu akan terlihat lebih cantik bergantungan di tabulampot jika dibandingkan dengan kerabat sawo lainnya.

ALKESA

Alkesa – Sawo Mentega

Di Majalengka kalo pas musimnya, banyak penjual Alkesa di pinggir jalan. Namun namanya berbeda yaitu ‘Tjampolay”. Bahkan terkenal di kota Ceribon syrup Tjampolay, sebagai oleh-oleh khas kota udang.
Di Jakarta lah buah ini dikenali sebagai buah Alkesa (Lucumma nervosa), Alkesa adalah jenis buah yang keberadaannya sudah mulai sulit dijumpai keberadaannya di Jakarta. Alkesa  termasuk tanaman sawo-sawoan yang dapat memiliki ketinggian batang mencapai 10 meter.
Tampil dengan kulit buah berwarna hijau saat masih muda dan akan berubah menjadi kuning saat buah sudah matang, Alkesa memiliki rasa buah yang unik yaitu merupakan campuran antara lembutnya alpukat dan manisnya ubi tetapi tidak berserat.
Sampai menjelang kepunahannya di Jakarta, buah asal Amerika Selatan yang kaya akan kalori, zat tepung, vitamin dan mineral ini belum pernah dimanfaatkan maksimal. Padahal jika dilihat dari tekstur buahnya, Alkesa sepertinya cocok dijadikan bahan baku selai, dodol maupun dikeringkan menjadi tepung sebagai bahan cookies atau kue kering.
Alkesa kian langka, mungkin kita adalah orang yang beruntung dari sekian banyak orang yang tidak pernah merasakan uniknya rasa buah sawo mentega ini.
Diambil dari berbagai sumber.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar